Kamis, 01 Juli 2010

WEBSITE UNTUK EDIT FOTO

Photobucket
Gambar di atas merupakan salah satu hasil editan foto dengan menggunakan Fun Photo Box
editor foto online yang satu ini mempunyai kelebihan yang cukup banyak. karena selain membuat foto berformat JPEG/JPG juga dapat membuat animasi yang menarik. penasaran...??? coba aja kunjungi websitenya
Fun Photo Box
selamat mencoba...

Senin, 07 Juni 2010

BRONKOPNEUMONIA

A. Definisi
Pneumonia merupakan peradangan perenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi.(Price,1995)
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat (Zul, 2001)
Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi dalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2001).
Perubahan system respirasi yang berhubungan dengan usia yang mempengaruhi kapasitas dan fungsi paru meliputi:
1. Peningkatan diameter anteroposterior dada.
2. Kolaps osteoporotik vertebrae yang mengakibatkan kifosis (peningkatan kurvatura konveks tulang belakang).
3. Kalsifikasi kartilago kosta dan penurunan mobilitas kosta.
4. Penurunan efisiensi otot pernapasan.
5. Peningkatan rigiditas paru.
6. Penurunan luas permukaan alveoli.

B. Klasifikasi pneumonia
Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001):
a. Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas:
• Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas lobus atau lobularis.
• Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan gambaran infiltrate paru bilateral yang difus.
b. Berdasarkan faktor lingkungan
• Pneumonia komunitas
• pneumonia nosokomial
• pneumonia rekurens
• pneumonia aspirasi
• pneumonia pada gangguan imun
• pneumonia hipostatik.

c. Berdasarkan sindrom klinis
• Pneumonia bakterial berupa: pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.
• Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan mycoplasma, clamydia pneumoniae atau legionella.

Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001):
a. Community Acquired Pneumonia dimulai sebagai penyakit pernafasan umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia streptococcal merupakan organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.
b. Hospital Acquired pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial. Organisme seperti ini aeruginisa pseudomonas. Klebsiella atau aureus stapilococcus, merupakan bakteri umum penyebab Hospital Acquired pneumonia
c. Lobar dan bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan hanya menurut lokasi anatominya saja.
d. Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme perusak.

C. Etiologi
a. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organsime gram positif seperti: streptococcus pneumonia, s. aureus dan s. pyogenesis. Bakteri gram negative seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P.Aeruginosa.
b. Virus
Disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyabab utama pneumonia virus.
c. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos
d. Protozoa
Menimbulkan terjadinya pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami imunosupresi. (Reeves,2001).
D. Pathways
TERLAMPIR
DOWNLOAD DISINI
E. Manifestasi klinis
• Kesulitan dan sakit pada saat pernapasan.
Nyeri pleuritik, nafas dangkal dan mendengkur, takipnea.
• Bunyi nafas di atas area yang mengalami konsolidasi.
Mengecil, kemudian menjadi hilang, krekels, ronki, egofoni.
• Gerakan dada tidak simetris
• Menggigil dan demam 38,80 C sampai 41,1o C, delirium
• Diaforesis
• Anoreksia
• Malaise
• Batuk kental, produktif
Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat.
• Gelisah
• Sianosis
Area sirkumoral, dasar kuku kebiruan.
• Masalah-masalah psikososial: disorientasi, ansietas, takut mati.

F. Pemeriksaan penunjang
• Sinar X: mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infilrat, empiema (stapilococcus);infiltrate menyebar atau terlokalisasi (bacterial);atau penyebaran/perluasan infiltrate nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar X dada mungkin bersih.
• GDA: tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
• Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah: diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopi fiberotik atau biopsy pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.
• JDL: leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infekksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
• Pemeriksan serologi; titer virus atau legionella, aglutinin dingin.
• LED: meningkat
• Pemeriksaan fungsi paru: volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps); tekanan jalan napas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.elektrolit natrium dan klorida mungkin rendah.
• Bilirubin mungkin meningkat.
• Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMV) (Doenges, 1999).

G. Penatalaksanaan
a. Kemoterapi
Pemberian kemoterapi harus berdasarkan petunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasik kultur sputum dan tes sensitivitas kuman teradap antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (Harasawa,1989)
b. Pengobatan umum
• Terapi oksigen
• Hidrasi, bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat dehidrasi dilakukan secara parenteral.
• Fisioterapi, penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari pneumonia hipografik, kelemahan dan dekubitus.

H. Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
Kelemahan, kelelahan, insomnia. Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
b. Sirkulasi
Riwayat gagal jantung kronis, takikardia, penampilan terlihat pucat.
c. Integritas ego
Banyak stressor, masalah finansial.
d. Makanan/cairan
Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, riwayat DM. Distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan malnutrisi.
e. Neurosensori
Sakit kepala, perubahan mental.
f. Nyeri/kenyamanan
Sakit kepala , nyeri dada meningkat dan batuk myalgia.
g. Pernafasan
Riwayat PPOM, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal. Sputum berwana merah muda, berkarat atau purulen.
Perkusi: pekak di atas area yang konsolidasi, gesekan friksi pleural. Bunyi nafas: menurun atau tidak ada di atas area yang terlibat atau nafas bronchial. Fremitus: taktil dan vocal meningkat dengan konsolidasi.. Warna: pucat, atau sianosis pada bibir/kuku.
h. Keamanan
Riwayat gangguan sistem imun, demam. Berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan mungkin pada kasus rubella/varisela.
i. Penyuluhan
Riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis.

I. Diagnosa keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan oedema, peningkatanan produksi sputum, nyeri pleuritik, penurunan energi, kelemahan.ditandai dengan perubahan frekuensi kedalaman pernafasan, bunyi nafas tidak normal, penggunaan otot aksesori, dispnea, sianosis, batuk efektif/tidak efektif dengan atau tanpa produksi sputum.
• Kriteria hasil: menunjukkan perilaku mencapai kebersihan jalan nafas, menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tidak ada dispnea atau sianosis.
• Intervensi keperawatan:
1. Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan dan gerakan dada.
2. Auskultasi paru, catat area penurunan/tidak ada aliran udara dan bunyi nafas tambahan (krakles, mengi)
3. Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam
4. Berikan cairan sedikitnya 2500ml/hari.
5. Kolaborasi:
• Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain.
• Berikan obat sesuai indikasi: mukolitik, ekspektoran, bronkodilator, analgesik.
• Berikan cairan tambahan
• Awasi seri sinar X dada, GDA, Nadi oksimetri.
• Bantu bronkoskopi/torakosintesis bila diidikasikan.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar-kapiler (efek inflamasi) dan gangguan kapasitas oksigen darah ditandai dengan dispnea, sianosis, taikardia, gelisah,/perubahan mental, hipoksia.
Kriteria hasil:
Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tidak ada gejala distress pernapasan
Berpastisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigen.
Intervensi keperawatan:
Mandiri:
• Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas.
• Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku.
• Kaji status mental.
• Awasi status jantung/irama
• Awasi suhu tubuh, sesuai indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil.
• Pertahankan istirahat tidur.
• Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif.
• Kaji tingkat ansietas.
• Dorong menyatakan masalah/perasaan.
Kolaborasi
• Berikan terapi oksigen dengan benar.
• Awasi GDA
3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi, penurunan kompliance paru, nyeri ditandai dengan dispnea, takipnea, penggunaan otot aksesori, perubahan kedalaman nafas, GDA abnormal.
Kriteria hasil:
Menunjukkan pola pernafasan normal/efektif dengan GDA dalam rentang normal.
Intervensi keperawatan:
Mandiri:
• Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
• Auskultasi bunyi nafas.
• Tinggikan kepala dan bahu.
• Obsrvasi pola batuk dan karakter sekret.
• Dorong/bantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk efektif.
Kolaborasi
• Berikan oksigen tambahan.
• Awasi DGA.
4. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan adanya proses infeksi.
Kriteria hasil:
pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh, tidak menggigil, nadi normal.
Intervensi keperawatan:
Mandiri:
• Obsevasi suhu tubuh (4 jam).
• Pantau warna kulit.
• Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan.
Kolaborasi:
• Berikan obat sesuai indikasi:antiseptik
• Awasi kultur darah dan kultur sputum, pantau hasilnya setiap hari.
5. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan utama dan tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi, penekanan imun).
• Kriteria hasil:
1. Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
2. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/ menurunkan resiko infeksi.
• Intervensi keperawatan:
1. Pantau TTV.
2. Anjurkan klien memperhatikan pengeluaran sekret dan melaporkan perubahan warna jumlah dan bau sekret.
3. Dorong teknik mencuci tangan dengan baik.
4. Ubah posisi dengan sering.
5. Batasi pengunjung sesuai indikasi
6. Lakukan isolasi pencegahan sesuai indikasi.
7. Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang.
8. Kolaborasi: Berikan antimikrobal sesuai indikasi.
6. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin, batuk menetap ditandai dengan nyeri dada, sakit kepala,nyeri sendi, melindungi area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
• Kriteria hasil:
1. Menyebabkan nyeri hilang/terkontrol.
2. Menunjukkan rileks, isirahat/tidur dan peningkatan aktivitas dengan cepat.
• Intervensi keperawatan:
1. Tentukan karakteristik nyeri.
2. Pantau TTV.
3. Ajarkan teknik relaksasi.
4. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.
7. Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia, distensi abdomen.
• Kriteria hasil:
1. Menunjukkan peningkatan nafsu makan.
2. Berat badan stabil atau meningkat.
• Intervensi keperawatan:
1. Identifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah.
2. Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin.
3. Auskultasi bunyi usus.
4. Berikan makan porsi kecil dan sering.
5. Evaluasi status nutrisi.
8. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan kurang terpajan informasi, kurang mengingat, kesalahan intrpretasi ditandai dengan permintaan informasi, penyataan kesalahan konsep, kesalahan mengulang.
• Kriteria hasil:
1. Menyatakan pemahaman kondisi proses penyakit dan pengobatan.
2. Melakukan perubahan pola hidup.
• Intervensi keperawatan:
1. Kaji fungsi normal paru.
2. Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit, lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan.
3. Berikan dalam bentuk tertulis dan verbal.
4. Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif.
5. Tekankan perlunya melanjutrkan terapi antibiotik selama periode yang dianjurkan.

J. Daftar pustaka
• Doenges, Marylyn (2001). Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3, Jakarta: EGC.
• Hudak,Carolyn M (1997). Keperawatan Kritis :Pendekatan Holistik. Alih bahasa: Allenidekania dkk. Jakarta.EGC.
• Lackman’s (1996). Care Principle and Practice of Medical Surgical Nursing. Philadelpia:WB Saunders Company.
• Pasiyan rahmatullah (1999).Geriatrik: Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. editor:R.boedhi Darmoso dan Hadi Martono,Jakarta, Balai Penerbit FKUI.
• Price sylvia Anderson (1994). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih bahasa: Peter anugerah. Jakarta. EGC.
• Reevers, Charlene J, et all (2000). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba medica.
• Smeltzer SC, Bare B.G (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 1. Jakarta:EGC.
• Suyono,(2001). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Edisi III. Jakarta: balai penerbit FKUI.

Artikel Terkait:
Penatalaksanaan berbagai macam masalah kesehatan

Minggu, 23 Mei 2010

Jumat, 16 April 2010

KONSEP TUMBUH KEMBANG

1. Pengertian
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak) sel-sel tubuh dan juga bertambah besarnya sel. (Nursalam, 2005:32)
Pertumbuhan fisik merupakan hal yang kuantitatif atau dapat diukur, aspek peningkatan ukuran fisik individu sebagai hasil peningkatan dalam jumlah sel. (Potter, 2005: 637).
Menurut IDAI (2000) dalam Nursalam (2005:33), perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dan struktur/ fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan, dan diramalkan sebagai hasil dari proses diferensiasi sel jaringan tubuh, organ-organ dan sistem-sistemnya yang terorganisasi.
Perkembangan adalah aspek progresif adaptasi terhadap lingkungan yang bersifat kualitatif. (Potter, 2005:637)

2. Teori perkembangan
a. Teori Psikososial Erikson
1) Percaya vs tidak percaya (lahir-1tahun/ bayi)
Bentuk: mengambil dan mendapatkan.
Sifat baik: perkembangan.
Ciri tahapan: pemenuhan kepuasan dari pengasuh tentang kebutuhan dasar bayi untuk makan dan mengisap, rasa hangat dan nyaman, cinta dan rasa aman dalam perilaku yang konsisten dan sensitif, menghasilkan kepercayaan.
2) Autonomi vs ragu-ragu dan malu (1-3 tahun/ toddler)
Bentuk: menahan dan membiarkan pergi.
Sifat baik: kesediaan
Ciri tahapan: anak mulai mengembangkan kemandirian pada saat peningkatan kontrol fungsi tubuh terhadap kegiatan membuka dan memakai baju, berjalan, mengambil, makan sendiri, dan ke toilet. Mulai terbentuk kontrol diri.
3) Inisiatif vs Rasa Bersalah (3-6 tahun/ prasekolah)
Bentuk: serangan yang merusak: tujuan.
Ciri tahapan: anak mengembangkan inisiatif pada saat merencanakan mencoba hal-hal baru. Perilaku anak ditandai sebagai sesuatu yang kuat, imajinatif, dan intrusif. Terjadi perkembangan perasaan bersalah dan identifikasi dengan orang tua yang sama jenis kelamin.
4) Industri vs inferior (6-12 tahun/ usia sekolah)
Bentuk: melakukan dan memproduksi sesuatu.
Sifat baik: kompetensi.
Ciri tahapan: anak mendapatkan pengenalan melalui demonstrasi keterampilan dan produksi benda-benda serta mengembangkan harga diri melalui pencapaian. Anak secara besar dipengaruhi oleh guru dan sekolah.
5) Identitas vs bingung peran atau difusi (8-21 tahun/ remaja)
Sifat baik: kesetiaan
Ciri tahapan: individu mengembangkan penyatuan rasa “diri sendiri”. Teman sebaya mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku. Keputusan utama adalah untuk menentukan tujuan vokasional.
6) Intimasi vs isolasi (18-21 sampai 40 tahun/ dewasa muda)
Bentuk: mencintai.
Sifat baik: cinta.
Ciri tahapan: tugas adalah untuk mengembangkan kedekatan dan berbagi hubungan dengan lainnya, yang mungkin termasuk pasangan seksual.
7) Generativitas vs absorbsi diri atau stagrasi (40-65 tahun/ dewasa tengah)
Bentuk: memberi nafkah
Sifat baik: merawat.
Ciri tahapan: dewasa matang dihadapkan pada kesadaran tentang penetapan dan bimbingan untuk generasi selanjutnya. Orang dewasa melihat ke dalam diri sendiri dan mengekspresikan kepedulian pada dunia di masa yang akan datang.
8) Integritas ego vs putus asa (65 tahun-mati/ dewasa akhir)
Bentuk: penerimaan
Sifat baik: bijaksana
Ciri tahapan: masa lansia dapat melihat ke belakang dengan rasa puas dan penerimaan hidup dan kematian.
(Potter, 2005: 641-642)
b. Teori Psikososial Freud
1) Oral- sensori (lahir sampai 12-18 bulan/ bayi)
Ciri tahapan : aktivitas melibatkan mulut seperti mengisap, menggigit dan mengunyah merupakan sumber utama kenikmatan.
2) Anal-muskular (12-18 bulan sampai 3 tahun/masa toddler)
Ciri tahapan: pemuasan kenikmatan sensual berasal dari retensi dan pengeluaran feses. Mengotori adalah aktivitas yang umum.
3) Falik-lokomosi (3-6 tahun/ prasekolah)
Ciri tahapan : manipulasi genetalia menghasilkan sensasi yang bisa menyenangkan. Masturbasi dimulai dan keingintahuan seksual menjadi terbukti.

4) Latensi (6 tahun sampai pubertas/ masa sekolah)
Ciri tahapan : ini adalah periode tenang yang Frued percaya pada saat ini kegiatan seksual tersebut tidur, bagaimanapun juga anak mungkin terikat dalam aktivitas erogenous dengan teman sebaya yang sama jenis kelaminnya.
5) Genetalia (pubertas 4 dewasa/ remaja dan masa dewasa).
Genetalia menjadi pusat dari tekanan dan kesenangan seksual. Produksi hormon seksual menstimulasi perkembangan hubungan heteroseksual.
(Potter, 2005:641)
3. Ciri Pertumbuhan Perkembangan.
Menurut Soetjningsih (2002) dalam Nursalam (2005:32), pada umumnya pertumbuhan mempunyai ciri tertentu yaitu :
a. Perubahan proporsi tubuh yang dapat diamati pada masa bayi dan dewasa.
b. Hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru yang ditandai dengan lepasnya gigi susu dan timbulnya gigi permanen, hilangnya refleks primitif pada masa bayi, timbulnya tanda seks sekunder, dan perubahan lainnya.
c. Kecepatan perumbuhan tidak teratur yang ditandai dengan adanya masa-masa tertentu, yaitu masa prenatal, bayi, dan adolesensi, di mana terjadi pertumbuhan cepat dan masa prasekolah dan masa sekolah, di mana pertumbuhan berlangsung lambat.
Menurut Nursalam (2005:34), pada dasarnya tumbuh kembang mempunyai prinsip yang berlaku secara umum yaitu:
a. Tumbuh kembang merupakan suatu proses terus-menerus dari konsepsi sampai dewasa.
b. Pola tumbuh kembang pada semua anak umumnya sama, hanya kecepatannya dapat berbeda.
c. Proses tumbuh kembang dimulai dari kepala ke seluruh anggota badan, misalnya mulai melihat, tersenyum, mengangkat badan, duduk, berdiri dan seterusnya.

KONSEP DASAR NUTRISI

A. DEFINISI NUTRISI
Menurut Mubarak (2006: 199), nutrisi adalah diet berimbang dengan memasukkan unsu makanan 4 sehat penting untuk mempunyai nutrisi baik, bahan begizi seperti: protein, mineral, kalsium dan vitamin harus tersedia dalam jumlah yang cukup yaitu hamper sama dengan kebutuhan gizi dari generasi yang lebih muda.

B. KELOMPOK BAHAN MAKANAN
Zat gizi digolongkan menjadi
1. Kelompok bahan makanan sumber zat tenaga (hidrat, arang, protein, lemak)
a. Padi-padian : gandum, beras, jagung
b. Umbi-umbian : ubi,singkong, talas, geplak, kentang
c. Gula : gula, madu, dodol, manisan
d. Lemak dan minyak : minyak sayur, lemak binatang, mentega
e. Kacang dan biji-biian
2. Kelompok bahan makanan: sumber zat pembangun
Untuk pertumbuhan dan daya tahan tubuh terdiri dari protein. Protein terbagi menjadi dua yaitu
a. Protein hewani, berasal dari hewan.
Contoh: daging, ikan, kacang, telur, asama.
b. Protein nabati, berasal dari tumbuh-tumbuhan
Contoh: kacang tolo, kacang merah, kacang hijau.
3. Kelompok makanan sumber zat pengatur (vitamin, mineral, air)
a. Vitamin
Adalah zat makanan yang digunakan untuk mempertahankan kesehatan tubuh.
Beberapa fungsi dari vitamin
1) Vitamin A : sebagai pertumbuhan
2) Vitamin B : sebagai pengguanaan makanan oleh tubuh
3) Vitamin C: sebagai pembentukan jaringan tertentu dan daya tahan tubuh
4) Vitamin D : sebagai pembentukan tulang
5) Vitamin K : sebagai pembekuan darah



b. Mineral
Dibutuhkan tubuh sebagai zat pembangun dan zat pelindung. Garam dapur adalah semacam garam yang diperlukan tubuh, mineral lain yang penting oleh kesehatan dan kalsium.

C. CARA PEMBERIAN MAKAN SELAMA ANAK SEHAT-SAKIT
1. Umur 0-4 bulan
a. Berikan ASI sesuai keiunginan anak, minimal 8 kali sehari
b. Jangan memberikan makanan/minuman selain ASI
2. Umur 4-6 bulan
a. Berikan ASI sesuai keinginan anak, minimal 8 kali sehari
b. Beri makanan pendamping ASI 2 kali sehari, tiap kali 2 sendok makan
c. Pemberian makanan pendamping ASI dilakukan setelah pemberian ASI
d. Makanan pendamping ASI adalah bubur tim lumat ditambah kuning telur/ayam/ikan/tempe/tahu/sayuran
3. Umur 6-12 bulan
a. Berikan ASI sesuai keinginan anak
b. Berikan bubur nasi ditambah kuning telur/ayam/ wortel/sayuran
c. Makanan tersebut diberikan 3 kali sehari. Setiap kali makan diberikan sebagai berikut:
1) Umur 6 bulan : 6 sendok makan
2) Umur 7 bulan : 7 sendok makan
3) Umur 8 bulan : 8 sendok makan
4) Umur 9 bulan : 9 sendok makan
5) Umur 10 bulan : 10 sendok makan
6) Umur 11 bulan : 11 sendok makan
d. Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti: bubur kacang hijau, pisang, biscuit dll
4. Umur 12-24 bulan
a. Berikan ASI sesuai keinginan anak
b. Berikan nasi lembik yang ditambah telur/ayam/ikan/sayuran
c. Beri makan 3 kali sehari
d. Berikan juga makanan selingan 2 kalki sehari diantara waktu makan
5. Umur 2 tahun/lebih
a. Beri makanan yang biasa dimakan keluarga 3 kali sehari
b. Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan

D. POLA PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI USIA 0-2 TAHUN
Umur Macam makanan Pemberian dalam sehari
0 s/d 4 bulan ASI Sekehendak
4 s/d 6 bulan ASI
Buah
Bubur susu Sekehendak
3 kali
2 kali
6 s/d 8 bulan ASI
Buah
Bubur susu Sekehendak
1 kali
2 kali
8 s/d 10 bulan ASI
Buah
Bubur susu
Nasi tim saring Sekehendak
1 kali
1 kali
2 kali
10 s/d 12 bulan ASI
Buah
Nasi tim saring/makanan seperti keluarga
1 kali
2 kali
3 kali
12 s/d 24 bulan ASI
Buah
Makanan seperti keluarga
Makanan kecil 2-3 kali
1 kali
3 kali
1 kali